Sejarah Cindelaras Putra Raja Janggala

 

Sejarah Cindelaras Putra Raja Janggala

Gambar 1. Kawasan Cindelaras

Sebagian besar kondisi geografis wilayah Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, dipenuhi oleh kawasan hutan. Sebenarnya, banyak keindahan alam yang tersimpan di balik pepohonan rindang di daerah ini. Selain itu, terdapat salah satu hutan yang memiliki asal usul sejarah pada zaman kerajaan. Warga setempat menyebutnya sebagai hutan Cindelaras. Tepatnya, Cindelaras terletak di kawasan hutan Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Grobogan, Jawa Tengah. Cindelaras dijadikan nama tempat.

Tersemat mitologi turun temurun bagi warga setempat mengenai asal-usul hutan Cindelaras. Cindelaras Putra Raja Janggala Cindelaras adalah putra Raja Janggala, Panji Asmara Bangun dan istrinya Galuh Candrakirana. Suatu ketika karena terbakar emosi, Panji Asmara Bangun atau Raden Putra mengusir Galuh Candrakirana keluar dari kerajaan. Hal itu setelah merebak fitnah jika Galuh Candrakirana telah meracuni istri muda Panji Asmara Bangun.

Istri muda Panji Asmara Bangun memiliki niat buruk yaitu hendak menyingkirkan Galuh Candrakirana. Istri muda Panji Asmara Bangun yang sudah bekerja sama dengan dukun berpura-pura sakit.

Mulai dari situlah drama mulai berlangsung. Sang dukun yang dipanggil untuk menyembuhkan penyakit istri muda Panji Asmara Bangun berbohong jika penyebab sakit itu karena racun dari Galuh Candrakirana. "Galuh Candrakirana yang dalam posisi mengandung Cindelaras diusir dari kerajaan Janggala. Perkembangannya Galuh Candrakirana kemudian melahirkan Cindelaras di hutan ini. Sejak lahir hingga remaja, Cindelaras hidup di hutan ini. Seluruh hewan penghuni hutan adalah temannya," kata Mbah Rusmin, Juru Kunci Hutan Cindelaras.

Beranjak remaja, Cindelaras memiliki ayam jago aduan yang tiada tanding. Kesohoran ini kemudian terdengar oleh Panji Asmara Bangun. Panji Asmara Bangun kemudian mengundang Cindelaras ke istana. Sang Raja Jenggala menantang Cindelaras untuk sabung ayam. Panji Asmara Bangun bertaruh bahwa jika ayamnya kalah maka ia akan menyerahkan seluruh harta kekayaannya. Akan tetapi, jika ayam Cindelaras yang kalah maka Cindelaras harus rela kepalanya dipenggal.

“Ayam Raden Putra kalah. Setelah itu mendadak ayam Cindelaras berteriak jika Cindelaras adalah anak Raden Putra. Cindelaras yang sudah diberitahu ibundanya pun mengamini. Di situlah Cindelaras dipertemukan dengan ayahnya. Raden Putra kemudian mengajak Cindelaras beserta ibunya untuk kembali ke kerajaan setelah mengetahui apa yang terjadi adalah fitnah. Ia menyesal dan meminta maaf. Istri mudanya serta dukun itu kemudian dihukum," kata Mbah Rusmin.


Gambar 2. Petilasan Cindelaras

Hutan Cindelaras seluas 33 hektar itu semula di tahun 1979 disulap oleh KPH Gundih menjadi obyek wisata alam dan religi. Di hutan itu juga masih terdapat punden, petilasan dan juga makam yang disebut-sebut sebagai makam kerajaan Janggala. Namun karena minimnya dana untuk pengelolaan, obyek wisata Cindelaras menjadi terbengkalai. Sungguh di luar perkiraan, kesunyian obyek wisata Cindelaras ternyata menyuguhkan keindahan alam yang luar biasa. Ibarat sebagai surga yang tersembunyi di tengah rimbunnya kawasan hutan.

Komentar