Pesona Merbabu via Gancik
Pesona Merbabu via Gancik
Pendakian kali ini aku bersama beberapa temanku yaitu Sefa, Brian, Inka, Dina, dan juga satu guruku semasa sekolah, kami biasa memanggilnya Pak Sulis. Setelah berunding, kami bersepakat untuk melakukan pendakian ke Gunung Merbabu via Gancik. Awalnya kami hanya berencana untuk melakukan pendakian ke Gunung Andong, akan tetapi karena ada sesuatu dan berbagai hal lain, akhirnya kami mengganti pendakian ke Gunung Merbabu.
Gunung Merbabu (3145 mdpl) terletak di Jawa Tengah, berhadapan dengan Gunung Merapi, sehingga tak jarang disebut gunung berapi “kembar”. Kami memutuskan mendaki melalui jalur Gancik terletak di Dukuh Selo Nduwur, Desa Selo, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Sebenarnya, kedua jalur antara jalur Gancik dan jalur Selo nantinya akan bertemu di pos 3. Pada pos 3 tersebut pendaki biasanya kebingungan saat akan turun gunung, karena banyak terlihat jalan yang bercabang.
Nah, salah satu alasan
kami mendaki Gunung Merbabu via Gancik yaitu jalur ini kami rasa tepat
digunakan untuk pemula, khususnya wanita, seperti aku, Inka, dan Dina.
Sebelum hari pendakian
itu tiba, kurang lebih satu minggu sebelum mendaki, kami mulai mempersiapkan
diri dan juga keperluan. Kami mempersiapkan fisik dengan olahraga, seperti lari-lari
ataupun jogging. Maklum sudah lama tidak olahraga. Hal itu kami lakukan
agar terbiasa saat mendaki, dan mengantisipasi kram pada kaki yang kaku karena
jarang berolahraga. Semakin mendekati hari pendakian, kami juga mempersiapkan keperluan
yang harus dibawa.
Semuanya siap. Kami
berangkat dari Purwodadi pada hari Jumat, sekitar pukul 07.00 WIB dengan
kendaraan bermotor. Kami bertemu di meet point yang telah kami tentukan
sebelumnya, karena semua rumah kami tidak ada yang searah. Kami saling
berboncengan, aku berboncengan dengan Sefa, Inka dengan Dina, dan Pak Sulis
dengan Brian. Di tengah perjalanan kami saling beriringan dan menikmati
perjalanan, kadang juga beristirahat di sebuah minimarket ataupun pinggir
jalan.
Perjalanan kami dari Purwodadi hingga Selo terhitung cukup lambat, karena memang dalam perjalanan kami santai dan banyak istirahatnya. Sekitar pukul 11.00 WIB kami sampai di basecamp Gancik. Sesampainya di basecamp lalu kami istirahat, sambil menunggu waktu sholat jumat. Ketika Sefa, Brian, dan pak Sulis melaksanakan sholat Jumat, aku, Inka, dan Dina mengecek lagi keperluan yang harus dibawa mendaki.
Setelah melaksanakan
sholat, kami pun makan siang di basecamp. Kemudian setelah dipastikan semua
sudah siap, sekitar pukul 13.15 WIB kami mulai pendakian. Tidak ada pendaki
lain yang mulai mendaki pada pukul itu, hanya kami berenam siang itu yang mulai
naik. Kami sempat ngobrol dengan beberapa pendaki, mereka bilang baru akan naik
sore atau malam hari. Tapi kami tetap mulai pendakian pada siang itu.
Perjalanan awal pendakian
dari basecamp, kami memposisikan diri. Pak Sulis sebagai navigator, Sefa
sebagai leader, aku logistik, Inka dan Dina sebagai follower, serta Brian
sebagai sweeper. Kami melewati rumah warga dan juga perkebunan. Jalan berupa
cor. Sekita 700 m kami baru sampai di bukit Gancik Hill Top, yang juga
merupakan obyek wisata. Kami mendaki santai dan juga saling bercanda agar
meminimalisir rasa capek. Kami menghabiskan 45 menit dari basecamp hingga Hill
Top.
Pendakian selanjutnya
dari Hill Top hingga Pos 1 Senduran. Dari Hill Top kami berjalan dan akan masuk
ke dalam hutan. Hutan dengan pepohonan yang cukup rimbun. Trek berupa jalan
yang masih landai dan beberapa ada yang menanjak, tetapi keseluruhan masih
santai hingga Pos 1. Di Pos 1 Senduran, lokasinya cukup luas dan mungkin bisa
menampung kurang lebih 10 tenda. Tapi lokasi masih sangat jauh dari puncak
sehingga tidak disarankan camp di sini. Dari Hill Top hingga Pos 1 kami
membutuhkan waktu sekitar 2 jam.
Setelah kami istirahat sebentar di Pos 1, kemudian kami mulai lagi pendakian menuju Pos 2 Pentur. Kami menghabiskan waktu kurang lebih 1 jam 45 menit dari Pos 1 sampai Pos 2. Saya rasa trek yang harus dilalui ini sudah lebih sulit dari sebelumnya. Namun masih di kawasan hutan dengan pohon lebat dan berbatang kecil. Nah, baru dalam perjalanan menuju Pos 2 inilah, kami berpapasan dengan beberapa pendaki lain yang hendak turun. Kami saling sapa dan ada beberapa yang meminta air minum, karena persediaan mereka ketika hendak turun sudah habis. Di Pos 2 kami duduk dan berunding akan camp di pos berapa. Sebab melihat kondisi Inka dan Dina sudah terlihat kelelahan. Juga jam yang sudah menunjukkan pukul 17.30 WIB.
Namun pada akhirnya kami
tetap lanjut menuju Pos 3 Batu Tulis. Kami mulai menyalakan senter
masing-masing. Suasana semakin gelap diselimuti kabut tebal dan hawa dingin
yang mulai menusuk jaket tebal kami. Kami berjalan pelan, karena menuju Pos 3
ini trek berupa tanjakan dan sudah keluar dari hutan, jadi dinginnya lebih
terasa. Kami saling bertegur sapa dan bergantian jalan dengan pendaki yang
hendak turun. Kami sampai di Pos 3 sekitar pukul 18.45 WIB. Terlihat sudah
banyak tenda yang berdiri di Pos 3. Memang Pos ini jadi salah satu lokasi camp
yang luas dan cukup nyaman.
Awalnya kami berencana
untuk camp di Sabana I (naik sekitar 200 m dari Pos 3). Namun melihat situasi
dan kondisi, kami memutuskan untuk camp di Pos 3 saja. Malam itu, kami langsung
mendirikan dua tenda untuk bermalam. Setelah tenda sudah siap, kami berkumpul
di satu tenda. Karena sudah tidak betah dengan hawa dingin di luar, juga angin
yang cukup besar malam itu. Kami mulai memasak untuk makan malam. Beberapa
mangkuk mie instan dengan irisan cabai dipadukan dengan secangkir kopi panas.
Setelah makan malam, kami ngobrol-ngobrol dan bercanda di tenda, kemudian
tidur.
Pada sekitar pukul 04.45 WIB, aku, Inka, dan Dina dibangunkan oleh Brian, Sefa, dan pak Sulis. Kami bersiap untuk keluar melihat sunrise, memasak sarapan pagi, kemudian melanjutkan pendakian. Setelah menikmati sunrise, kami mulai memasak sarapan. Beberapa makanan pagi disajikan dengan segelas susu panas sudah tersaji dan kami mulai mengisi perut.
Pukul 07.30 WIB aku,
Sefa, Brian, Inka, dan Dina melanjutkan pendakian. Sedangkan Pak Sulis enggan
untuk lanjut, sehingga dia tetap tinggal di Pos 3, sekaligus menjaga tenda dan
barang bawaan kami. Kami berlima lanjut mendaki menuju Sabana I, tanpa carrier.
Hanya membawa botol minum saja.
Kami membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam untuk sampai ke Sabana I. Kami istirahat sambil menikmati hamparan bunga Edellweis di Sabana I. Setelah beberapa saat kami istirahat, kami melanjutkan pendakian menuju Sabana II.
Dari Sabana I hingga
Sabana II kami memerlukan waktu sekitar 1 jam. Sampai Sabana II kami ingin
melanjutkan pendakian menuju Watu Lumpang kemudian ke Puncak Triangulasi.
Namun, melihat kondisi Inka dan Dina yang kelelahan dan tidak mungkin untuk
lanjut. Aku terpaksa tidak ikut naik sampai ke puncak. Hanya Sefa dan Brian
yang lanjut mendaki ke puncak. Sedangkan aku, Inka, dan Dina menunggu di Sabana
II sampai Sefa dan Brian kembali.
Setelah kurang lebih satu
jam, Sefa dan Brian pun kembali, dan kami bergegas untuk turun. Sekitar pukul 12.00
WIB kami sampai lagi di Pos 3. Kami segera makan siang dan berkemas untuk
turun. Pukul 13.15 WIB kami turun dari Pos 3. Sepanjang perjalanan turun, kami
saling bercanda, ngobrol, dan juga bertegur sapa dengan pendaki lain.
Perjalanan turun gunung
biasanya lebih cepat 50% daripada naik gunung. Jika kita menghabiskan 5-6 jam
untuk sampai ke Pos 3, ketika kami turun hanya membutuhkan waktu kurang lebih
3-3,5 jam untuk sampai lagi di basecamp.
Kami sampai di basecamp
sekitar pukul 16.15 WIB. Kami bersih-bersih diri di basecamp, istirahat,
sholat, dan berbincang sebentar dengan para pendaki lain. Kemudian pukul 17.00
WIB kami pulang menuju Purwodadi. Kami sampai di Purwodadi sekitar pukul 20.40
WIB dengan selamat dan tidak kurang suatu apapun. Berbagai pengalaman mendaki
memang tidak terlupakan. Setiap pendakian membawa cerita dan kenangannya
masing-masing.
Meminjam kalimat dari Soe
Hok Gie, bahwa “Dunia itu seluas langkah kaki. Jelajahilah dan jangan takut
melangkah. Hanya dengan itu kita bisa mengerti kehidupan dan menyatu
dengannya.”




Komentar
Posting Komentar