Nasib Petani saat Harga Gabah dan Beras Anjlok

 Nasib Petani saat Harga Gabah dan Beras Anjlok

Harga jual gabah panen di tingkat petani Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah menurun. Kondisi tersebut terjadi seiring datangnya musim panen padi di tahun 2022 ini. Salah satu petani, Jarwo mengatakan saat ini tengah panen seluas tiga kotak lahan sawah. Setiap kotak memiliki luas 1.500 meter persegi. Menurutnya memang panennya cenderung sedikit jika dibandingkan tahun-tahun lalu.

"Ini panen 4 kotak, tahun lalu basanya bisa mencapai 4 ton lebih, sekarang kurang lebih cuma 3 ton. Kualitasnya kurang bagus, karena cuacanya kurang bagus juga sekarang,” jelas Jarwo.

Dia mengatakan harga gabah di tingkat petani saat ini pun menurun, jika dibandingkan tahun lalu. Bahkan biaya menanam dibandingkan dengan hasil panen tidak seimbang. Petani pun mengaku merugi.

“Harga gabah saat ini Rp 3.500,00 per kilo, kemarin (tahun lalu) Rp 4.500,00 per kilo. Turun, tidak seimbang sama biaya tanam. Biayanya Rp 1,5 juta setiap kotak, mulai menanam sampai pupuk," terangnya.

Hal tersebut tidak hanya dialami oleh Jarwo saja, tetapi rata-rata petani di Kabupaten Grobogan juga mengalami hal yang sama. Para petani mengatakan harga gabah saat ini sedang tidak memihak mereka. Apalagi terdengar wacana bahwa pemerintah akan impor beras. Para petani menganggap hal itu akan semakin membuat para petani sengsara.

"Sudah mulai panen raya, ya mestinya standar. Cuma kita resah karena denger berita pemerintah akan mendatangkan impor beras itu. Hal itu berpengaruh pada harga gabah kita," terang salah satu petani di Kabupaten Grobogan.

Para petani sangat resah mengahadapi keadaan ini. Bagaimana tidak, harga gabah maupun beras turun. Modal tanam dibandingkan dengan hasil panen tidak seimbang. Juga berbagai macam kebutuhan yang masih harus terpenuhi. Sedangkan kebanyakan petani menggantungkan hidupnya hanya dari hasil pertanian tersebut.

Agus misalnya, lahan yang dia miliki tidak terlalu luas, hanya beberapa petak saja. Mungkin jika panen berhasil, kurang lebih 1 ton gabah yang ia dapat dan kemudian dijual. Namun, saat harga gabah turun, uang yang ia dapat juga tidak seberapa. Penghasilan Agus hanya bersumber dari hasil pertaniannya. Istrinya tidak bekerja, sesekali membantu Agus di sawah. Dia memiliki 3 orang anak. Anak pertama kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Semarang. Anak kedua akan masuk kuliah tahun depan. Anak ketiga masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Dia juga merawat ibunya yang stroke di rumah. Tentu itu semua membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan lahan pertaniannya untuk sementara. Dia mencari pekerjaan lain, menjadi kuli bangunan. Sebab, untuk saat ini hasil pertaniannya tidak bisa menutup kebutuhan keluarganya, apalagi untuk modal menanam lagi.

Banyak petani yang mengalami hal serupa. Mereka terpaksa harus mencari pekerjaan lain, sebab tidak ada modal lagi untuk menanam setelah mengalami kerugian saat penanaman sebelumnya. Mereka hanya bisa pasrah terkait turunnya harga gabah maupun beras saat ini. Mereka berharap pemerintah mengutamakan kesejahteraan petani, missal dengan tidak mengimpor beras. Saat ini mereka hanya bisa berusaha mencari pekerjaan lain atau pinjaman untuk modal pertanian. Berjuang untuk menutup semua kebutuhan keluarga dan tetap menjalani roda kehidupan.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sejarah Cindelaras Putra Raja Janggala